Komisi X DPR Dorong Maksimalkan Keterampilan Digital di Dunia Pendidikan

Home » Article » Komisi X DPR Dorong Maksimalkan Keterampilan Digital di Dunia Pendidikan

Wakil Ketua Komisi X DPR Hetifah Sjaifudian mengatakan dalam dunia pendidikan perlu adanya pendidikan karakter yang positif bagi mahasiswa agar mampu memajukan bangsa dan menjawab tantangan global.

Liputan6.com, Jakarta Merujuk pada perkembangan komunikasi di Indonesia yang semakin maju dengan jumlah pengguna internet mencapai angka 175,4 juta, perlu adanya peningkatan keterampilan dan karakter positif di era digital bagi mahasiswa di Indonesia.

Melihat perkembangan tersebut, Wakil Ketua Komisi X DPR Hetifah Sjaifudian mengatakan dalam dunia pendidikan perlu adanya pendidikan karakter yang positif bagi mahasiswa agar mampu memajukan bangsa dan menjawab tantangan global.

“Ada 10 keterampilan yang dibutuhkan oleh agen digital, diantaranya adalah critical thinking, negosiasi, kolaborasi, adaptasi, dan inovasi, yang dapat diperoleh dari pengalaman berorganisasi,” ujar Hetifah dalam acara seminar daring  untuk memeriahkan Dies Natalis Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Samarinda (STIKSAM) ke-3.

Dia juga memberikan contoh gambaran kolaborasi keterampilan era digital dalam pengembangan strategi electronic health yang telah dilakukan oleh beberapa negara di Eropa. Baginya, strategi tersebut dapat memangkas mobilitas dan waktu pengguna untuk mengantre, begitu pula dengan sistem pembelian obat.

“Transformasi tersebut dapat diterapkan dalam bidang kesehatan pasca-pandemi Covid-19,” ucap dia.

Dalam seminar yang bertema “Perilaku Positif Di Era Digital”, Direktur STIKSAM apt. Supomo, S.Si, M.Si, menyampaikan bahwa pihaknya sedang mengupayakan transformasi digital melalui pembelajaran, pelatihan soft skill bagi mahasiswa, dan juga penguatan SDM kampus dengan menggandeng OBAT Apps, aplikasi belajar farmasi besutan PT Obat Inovasi Indonesia.

Pada kesempatan tersebut, Supomo memaparkan pencapaian hasil kerja sama  dengan empat kampus mitra saat pandemi Covid-19 yang sudah berlangsung selama dua tahun. “Melalui MoU Tri Dharma Perguruan Tinggi, kami bermitra dengan Obat Inovasi dan beberapa kampus seperti Stikes ISFI Banjarmasin, STIKES IKIFA Jakarta, Akademi Mitra Sehat, dan AFI Yogyakarta telah berhasil mengeluarkan output berupa artikel riset bersama,” ungkap Supomo.

Mobility Program Obat Inovasi

Supomo juga mengungkapkan rencana Mobility Program bagi mahasisiwa yang akan diselenggarakan oleh Obat Inovasi dengan beberapa kampus mitra pada Februari mendatang. Program tersebut didesain menyerupai program pertukaran mahasiswa ke berbagai kampus farmasi yang tersebar di beberapa wilayah Indonesia untuk mendukung program merdeka belajar. 

“Dengan adanya kegiatan tersebut, semua civitas akademika kampus mitra juga turut bekerja sama, misalnya dosen sebagai narasumber, mempelajari manajemen perguruan tinggi, melakukan riset kolaboratif, serta melaksanakan pengabdian kepada masyarakat.” tuturnya.

Ke depan, terobosan ini akan menjadi jembatan antara pemerintah dengan para pelaku industri untuk mendorong kemampuan digital seperti apa yang diperlukan di kelas dan kebutuhan di dunia kerja.

Sehingga, kata dia, mobility program atau kampus merdeka yang telah dicanangkan oleh pemerintah maupun OBAT Apps diharapkan mampu untuk menyambung rantai perguruan tinggi dengan dunia kerja melalui fleksibilitas dan keterlibatan multi sektor.

Lebih lanjut, Hetifah juga berpesan agar anak muda sebagai talenta digital pada masa mendatang wajib untuk menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Harapannya, agar menjadi pembelajar yang kuat dan mandiri.

“Jika hal tersebut tercapai, maka kita akan menjadi swasembada pelayanan dasar seperti halnya kesehatan,” pungkas dia.

 

Sumber : https://www.liputan6.com